Lima Ayat Masalah Kegeografian

Dua puluh tahun lalu, saya kuliah di kampus ini. Hari ini, 2 Februari 2011, berkesempatan pula duduk di Laboratorium Komputer Jurusan Survey Pemetaan dan Sistem Informasi Geografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas PendidikanIndonesia. Jika di masa lalu, belajar mengenai berbagai hal terkait dengan masalah pendidikan dan kegeografian, sedangkan di masa ini kita membicarakan mengenai rencana launching Organisasi Profesi para pendidik geografi.

Sebelum melakukan sosialisasi atau launching, secara formal kita butuh memperkokoh landasan akademik tentang alasan pendirian organisasi ini. Karena memang, di luar kelompok kami, sudah ada organisasi profesi yang serupa. Di UGM atau lebih tepatnya, UGM sebagai basisnya, ada Ikatan GeografIndonesiadisingkat IGI, kemudian diJakartaada AGGI kepanjangan dari Asosiasi Guru GeografiIndonesia. Secara umum, ada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan ada juga PGM (Persatuan Guru Madrasah).

Maka pertanyaannya adalah dimana posisi organisasi profesi ini ? andaipun benar, mau meningkatkan kualitas profesinalisme, mengapa tidak memperkokoh organisasi profesi keguruan yang sudah ada saja ? itulah salah satu pertanyaan mendasar yang menguat di pertemuan itu. Sebuah pertemuan yang dihadiri oleh komponen guru di Bandung dan sekitarnya (sewilayah Jawa Barat), dan juga Dosen dari Jurusan Pendidikan Geografi UPI.

Terkait dengan hal ini, saya melihat adalimapersoalan dasar, yang terkait dengan masalah kegeografian diIndonesia. Pertama, jelas tepat ada yang disebut krisis profesionalisme. Dengan adanya kebijakan sertifikasi, tidak menyebabkan otomatis profesionalisme guru meningkat. Karena banyak hal yang justru memperlemah profesionalisme guru dimaksud. Sejumlah penyebab melemahnya profesionalisme itu, yakni adanya portofolio guru yang tidak sejalan dengan latar belakang ijazahnya, berijazah matematika tetapi disertifikasi pada bidang pelajaran geografi, kemudian portofolio yang tidak orisinal. Pada sisi lain, peningkatan gaji (tunjangan) tidak serta merta mendongkrak kinerja guru di lapangan. Akibat dari hal tersebut tadi, maka kualitas dan profesionalisme guru melemah. Inilah yang disebut dengan krisis profesionalisme.

Kedua, krisis kelembagaan. Sampai pertemuan ini dilaksanakan, belum ada lembaga profesi yang secara khusus memberikan advice atau pengawasan, atau dewan pertimbangan terhadap etika dan standar profesi. Penentuan sertifikasi saat ini, cenderung diserahkan kepada pihak birokrat (kementerian agama atau kementerian pendidikan) atau lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). Hal itu, berbeda dengan kalangan profesi lain, seperti profesi dokter memiliki IDI (Ikatan DokterIndonesia) atau kalangan advokat memiliki AAI (Asosiasi AdvokatIndonesia) atau sejenisnya.

Ketiga, krisis identitas kelembagaan. Selepas reformasi, ada sejenis euporia masyarakat untuk membentuk organisasimassaatau organisasi profesi. Semangat ini, menggerakkan kesadaran para praktisinya untuk membentuk organisasi sesuai dengan identitas atau visinya tersendiri. Seperti yang terjadi pada kalangan profesi kedokteran, atau advokat, demikian pula di kalangan guru. Kelompok profesi ini –termasuk guru geografi, bermimpi untuk mendirikan organisasi yang berlabelkan sesuai dengan identitasnya sendiri.

Euporia politik, khususnya euporia desentralisasi menjadi spirit untuk mengembangkan organisasi sosial atau organisasi profesi yang ‘mandiri’, dan tidak harus satu organisasi. Seperti yang terjadi di lingkungan profesi guru, misalnya.Paraguru, menganggap bahwa organisasi profesi dapat berkembang lebih dari satu organisasi. Karena asumsi dan semangat demokrasi atau desentralisasi itulah, kemudian muncul PGRI (Persatuan Guru RepublikIndonesia), PGM (Persatuan Guru Madrasah), dan PGDSRI (Persatuan Guru dan Dosen Swasta RepublikIndonesia) dan sejenisnya.

Keempat, krisis identitas formal. Yang dimaksud dengan krisis identitas formal ini, yaitu legalitas posisi mata pelajaran geografi di lembaga pendidikan. Sudah menjadi kesadaran kolektif, dan rahasia umum bahwa identitas geografi itu menjadi pertanyaan ‘kritis’ para guru dan mahasiswa geografi. Di SMA, diposisikan sebagai salah satu rumpun IPS, begitu pula di UPI. Di tingkat perguruan tinggi ini, geografi menjadi salah satu jurusan di FPIPS (Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial), sedangkan di UI berada di jurusan MIPA, dan di UGM berdiri sebagai satu fakultas (Fakultas Geografi) dan berada di rumpun IPA.

Perdebatan mengenai ‘jenis kelamin’ geografi ini, terus berlanjut. Geografi berada di rumpun IPA atau IPS ? inilah pertanyaan kritis yang mengantarkan komunitas ini, dan juga bidang pengajaran mengalami krisis identitas formal.

Kelima, saya ingin menyebutnya dengan krisis aksiologis. Krisis ini, berkaitan dengan peran, kontribusi atau fungsi praksis geografi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selama ini, kita sering melihat bahwa dalam merekayasa bangsaIndonesiaini, hanya dikelola oleh segelintir ilmuwan. Di zaman Orde Baru, Negara direkayasa oleh kalangan ekonomi dan politik, kemudian di era reformasi oleh kalangan politik dan hokum. Di luar kelompok itu, hampir berada pada posisi yang marjinal.

Geografi dan ahli geografi, ditantang dan tertantang untuk ambil bagian dalam proses rekayasa sosial di negeri ini. Berbagai persoalan bangsa, baik yang terkait dengan moralitas, agenda pembangunan, krisis lingkungan, ketahanan pangan, kesehatan, dan lain sebagainya, membutuhkan kontribusi pemikiran dari kalangan geografi. Berbagai persoalan tersebut, selama ini masih banyak diserahkan kepada kelompok ilmu tertentu, yakni ekonomi dan atau politik. Sejatinya, geografi pun memiliki tanggungjawab moral untuk berpartisipasi dalam proses rekayasa sosial kebangsaan ini. Dalam makalah lain, saya menyebutnya dengan paradigm geografi emansipatoris, yaitu ideology gerak keilmuan yang berperan aktif dalam proses sosial dan proses keruangan.

Dengan argumentasi tersebut, sampai pada persoalan awal kita, bagaimana nasib geografi, guru geografi dan pendidikan geografi ?

Perihal aidafitri85
it's me dengan sejuta harapan dan cita-cita!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: